Sabtu, 31 Mei 2008

Kala Cinta Menyakitkan




“Nggak tau. Nggak tau…Nggak tauu!” teriak Fherlitha sebal, kupingnya dikatupkan kuat-kuat.
“Fherlitha, dengar dulu donk!!” Fharez bersikeras.
“Aduuh, nggak tau dech, bilang aja sama dia nggak tau!”
Tapi kan kasian dianya, “ paksa Fharez
“Ah…bodo amat. Itu urusan elo, “ kata Fherlitha nggak perduli, “Lagian kalo gue nggak suka mau digimanain?”
“Emank apa sich yang bikin elo nggak suka sama dia???”
“Nggak tau, yang jelas gue nggak suka sama dia!” bentak Fherlitha makin kesal.
Fharez narik napas, diusahakannya untuk tenang, lalu dengan lembut ia bicara.
“Sayang yach…padahal Fhatiz anaknya baik lho, kalem,….”
“Ah…udah-udah!” potong Fherlitha.
“Jangan promosiin dia lagi. Aku bosan, tau? Elo udah beratus-ratus kali ngomongin dia. Yang dia baiklah…kalemlah…ramahlah…males dengerinnya,” ucap Fherlithameledak-ledak. Ia berjalan meninggalkan Fharez sendiri di depan sambil mulutnya membentak-bentak.
“Elo itu mendingan nggak usah main kesini lagi dech…kalo cuma buat ngomongin si Fhatizitu!”
“Yach…Fherlitha nggak usah marah gitu, donk…,” suara Fharez memelas, mengikuti langkah Fherlitha ke ruang tamu, “Dia itu suka banget tau, sama elo!”
Fherlitha diam. Ia duduk mengangkat kaki di sofa. “Mau suka banget kek, mau nggak kek, emank gue pikirin!” sungutnya.
Kali ini Fharez diam. Memelototi Fherlitha kesal. Udah kaya gini, artinya kesabaran Fharez udah di luar batas aman. “Apa sich liat-liat. Melotot lagi!” bentaknya nggak mau kalah. Balas melototi Fharez.
“Sejak kapan sich, elo jadi nggak punya perasaan gini?” teriak Fharez.
Tuh…kan, Fharez uda marah. Mukanya merah
“Sejak elo nyomblangin gue ke dia, udah dibilang gue nggak suka. Ngotooot aja. Maksain lagi!” tukas Fherlitha jutek. Kalau boleh dikata, Fherlitha pengen marah abis-abisan.
“Cowok kaya apa sich yang elo sukain???”
“Yang jelas bukan si Fhatiz jelek itu!”
“Jangan bilang jelek!”
“Suka-suka gue!”
“Keras kepala!”
“Biarin!”
Tiba-tiba hening. Kedunya sibuk narik napas. Fherlitha balik badan, munggungin Fharez. Dan Fharez juga melakukan hal yang sama.
Lama kedunya seperti itu. Nggak tahan, Fharez ngelirik ke Fherlitha, Fherlitha juga kebetulan lagi ngelirik ke Fharez. Alhasil keduanya jadi lirik-lirikan. Karena merasa ketangkap basah, kedunya balik badan lagi. Saling belakangin lagi.
Nggak lama, kedunya lirik-lirikan lagi. Lama-lama, keduanya jadi salh tingkah. Karena merasa tingkahnya yang kekanak-kanakan, alhasil keduanya jadi ketawa geli.
“Norak ah…,” ucap Fherlitha duluan.
“Elo juga,” balas Fharez.
Hening lagi. Fharez dan Fherlitha sekarang duduk samping-sampingan. Saling liat-liatan. Fharez nggak sadar, pipi Fherlitha udah merah kaya tomat. Tersipu-sipu.
“Apaan sich, ngelitin,” kata Fherlitha pelan, suaranya di tahan. Capek dari tadi teriak-teriak melulu.
“Elo lucu,” seloroh Fharez sambil tertawa kecil. Ia merangkulkan tangannya ke bahu Fherlitha. “Sorry yach…” kata Fharez lembut, “ kalo gue maksain kehendak gue, gue pikir Fhatiz itu cowok yang baik buat elo.”
“Emank elo dijanjiin berapa sich, sama Fhatiz kalo gue sama dia jadian?”
Fharez mendehem, “Lit…ini bukan soal berapa atau apa. Tapi Fhatiz pernah curhat sama gue, katanta Fhatiz itu sukaaaa banget sama elo.” Katanya sambil mengelus-elusrambut pendek Fherlitha.
“Elu…percaya gitu aja.”
“Iyalah…soalnya setahu gue Fhatiz itu anaknya emank baik, jujur, dia itu terbuka banget sama gue. Jdi nggak mungkin Fhatiz itu boongin gue.”
Fherlitha tertunduk, merasa bersalah, “Yah…sorry, deh. Beneran dech…gue nggak bisa pacaran sama cowok yang nggak gue sukain. Tapi…kalo temenan, gue bisa . Bisa banget malah,” Fherlitha berkata sungguh-sungguh.
Fharez jadi nggak enak juga, “Ya…udah, dech. Gue juga nggak bias maksain elo buat suka sama dia. Ntar gue bilangin dech ke Fhatiz.”
“Sorry, ya…” seru Fherlitha memelas
“Nggak apa-apa kok. Namanya juga risiko. Gue yakin Fhatiz pasti nerima kok,” katanya pelan, “Kalo gitu gue pulang dulu, deh.”
“He-eh. Salam ya…sama Tante.”
“Yoi,” sahut Fharez, dan segera pergi sambil berlari-lari kecil.
Fherlitha daim di sofa. Merasa nggak perlu nganterin sobat dekatnya itu ke pintu gerbang. Dia udah kenal betul rumah ini. Fharez adalah anak cowok tetangga, rumahnya tepat di depan rumah Fherlitha. Mereka tetanggan mulai dari umur Fherlitha 10 tahun, sampai sekarang Fherlitha udah 16 tahun. Mereka dekat plus akrab. Tiap hari kalo bukan Fherlitha yang main ke rumah Fharez, pasti Fharez yang main ke rumah Fherlitha. Buat Fharez, Fherlitha udah kaya adiknya sendiri, apalagi Fharez mank nggak punya adik. Dia anak bungsu.
Dua bulan lalu, Fharez ngenalin Fhatiz ke Fherlitha. Sepupu Fharez itu baru pindah dari Jakarta ke Bandung. Jadi sering main ke rumah Fharez. Dan menurut pengakuan Fharez, dia naksir banget sama Fherlitha. Sebenarnya Fhatiz bukan cowok jelek. Jauhn dari kategori itu. Berteman dengan Fhatiz, menurut Fherlitha sama menyenangkannya dengan berteman dengan Fharez. Cuma untuk yang satu itu, Fherlitha nggak bias. Fherlitha sendiri nggak tau kenapa susah banget buat naksir cowok itu. Padahal omongan Fharezjuda nggak salah. Fhatiz cowok baik. Tapi…itu masalahnya…Fherlitha nggak suka cowok itu. Juga nggak cinta. Dan dia nggak bisa bersikap pura-pura mencintai.
***

Dering telepon udah bunyi buat yang ketiga kalinya…
“Hallo?” jawab Fherlitha.
Suara diseberang sana, “Fherlitha, ya…?
Fherlitha sudah tau suara siapa. “Iya. Ini Fherlitha.”
“Lit, ini Fhatiz…”
“Iya, gue tau,” balas Fherlitha cuek.
“Lagi ngapain?”
“Dengerin musik dan nulis”
“Oh…ganggu, donk?”
“Iya. Lagunya lagi seru banget!” jawab Fherlitha ketus, suaranya dingin balik.
Ini lagi satu masalah. Sejak Fherlitha tau, cowok itu suka dia, Fherlitha jadi nggak bisa beramah-tamah dengan cowok itu. Meskipun cuma lewat telepon.
“Sorry deh, kalo gitu,” suara Fhatiz nyaris nggak kedengeran.
Fherlitha diam.
“Lit…?” panggil Fhatiz lagi.
“Ya.”
“Maafin gue, ya…”
“Maafin kenapa?”
“Kalo gue suka sama elo.”
Fherlitha memandang jauh kelangit-langit. Udah seratus kali dia ngucapin itu.
“Nggak apa-apa, kok. Harusnya kan gue yang minta maaf.”
Fhatiz diam. Jauh diseberang sana, cowok itu mati-matian menyembunyikan perasaan yang sudah hancur berkeping-keping.
“Lit?” panggil Fhatiz lagi.
“Ya.” Jawab Fherlitha enggan, sungguh ia ingin sekali pembicaraan ini cepat selesai.
“Mencintai itu kadang kala menyakitkan, ya…” kata Fhatiz pelan, suaranya bergetar.
Fherlitha terhenyak. Ia menunduk sambil memainkan ujung bajunya. Tiba-tiba mulutnya kelu. Dalam hati ia merasa bersalah.


***

Setelah pembicaraan itu benar-benar selesai dan telepon sudah di tutup, Fherlitha berpaling ke jendela, berjalan kesana dan membuka tirai sedikit.
Di sana, di teras rumah depan, Fhares duduk dengan pacarnya, Anagatha. Keduanya berpegangan tangan. Mesraaaaaa sekali…
Fherlitha termangu. Sekali-kali mengerjapkan mata. Berusaha sekuat tenaga menahan cemburu yang bergejolak di hatinya. Fharez, tau nggak sih elo bahwa sebenarnya yang gue cintai adalah…ah, buru-buru Fherlitha menepis jeritan hatinya.
Ternyata Fhatiz benar. Mencintai itu kadang kala menyakitkan…!

Tidak ada komentar: